Tinjauan dan peluang industri sel Indonesia

0

Indonesia adalah pasar telekomunikasi terbesar kelima di dunia dalam hal pelanggan seluler setelah Cina, India, Amerika Serikat dan Rusia. Ini juga merupakan salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan jumlah complete pelanggan seluler meningkat dari 163,7 juta pada 2009 menjadi 262,three juta pada 2012. Populasi besar Indonesia (terbesar keempat di dunia) dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan telah mendukung permintaan yang kuat untuk layanan telekomunikasi di negara ini.

Layanan telekomunikasi di Indonesia telah disediakan oleh suksesi perusahaan milik negara sejak tahun 1961. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi (MOCIT), memiliki wewenang pengaturan dan kontrol yang luas atas sektor telekomunikasi negara itu. Walaupun pemerintah selalu mempertahankan monopoli layanan telekomunikasi di Indonesia, reformasi yang dilakukan sejak tahun 2000 telah berupaya menciptakan kerangka kerja regulasi untuk mempromosikan persaingan dan mempercepat investasi dalam infrastruktur telekomunikasi.

Pasar seluler di Indonesia saat ini didominasi oleh tiga operator besar: Telkomsel, Indosat dan XL Axiata. Bersama-sama mereka memegang sekitar 94% pangsa pasar di industri seluler Indonesia. Operator-operator ini terutama menawarkan layanan seluler menggunakan teknologi GSM. Mulai tahun 2002, pemerintah Indonesia mengeluarkan lisensi seluler baru untuk penggunaan teknologi CDMA untuk Cellular-Eight dan lisensi layanan akses nirkabel tidak bergerak yang menggunakan teknologi CDMA ke Telkom, Indosat dan Bakrie Telecom. Ada juga pemain kecil lainnya di pasar seluler Indonesia, seperti HCPT, Axis, Smartfren dan STI. Persaingan dalam industri ini terutama didasarkan pada kualitas layanan, harga, ketersediaan layanan knowledge dan fitur nilai tambah seperti pesan suara dan pesan teks.

Sejak diperkenalkan pada tahun 1998, layanan prabayar telah sangat populer di Indonesia karena memungkinkan pelanggan untuk mendaftar untuk layanan nirkabel tanpa menjalani pemeriksaan kredit. Layanan prabayar juga memberi pelanggan kontrol lebih besar atas pengeluaran bulanan. SMS telah terbukti populer di Indonesia, terutama pada platform prabayar, karena merupakan alternatif praktis dan ekonomis untuk komunikasi suara dan electronic mail. Kontribusi layanan knowledge terhadap pendapatan industri terus meningkat. Hal ini sejalan dengan tren meningkatnya kebutuhan masyarakat akan knowledge yang didukung oleh telepon seluler dengan kemampuan web dan meningkatnya penggunaan layanan bernilai tambah seperti layanan premium ( Layanan OTT seperti Skype, Viber, WhatsApp, dll.), Perpesanan IP, dan layanan Cloud.

Penetrasi sel di Indonesia telah meningkat di atas 100%, menunjukkan bahwa industri ini secara bertahap semakin matang. Namun, angka ini masih lebih rendah daripada negara-negara Asia lainnya seperti Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Singapura, dan Hong Kong, yang menunjukkan bahwa masih ada potensi pertumbuhan di kawasan ini. industri. Pertumbuhan industri di masa depan diharapkan berasal dari daerah di luar Jawa, di mana tingkat penetrasi sel masih rendah. Selain pertumbuhan di pasar utama, ada segmen pertumbuhan tinggi yang signifikan, terutama di segmen broadband konsumen dan menara seluler. Industri seluler Indonesia dan permintaan akan layanan telekomunikasi nirkabel diperkirakan akan terus tumbuh seiring dengan pertumbuhan dan modernisasi Indonesia. Dengan demikian, saham dan obligasi (terutama obligasi dengan imbal hasil tinggi karena sovereign ranking cap) yang dikeluarkan oleh perusahaan telekomunikasi Indonesia menawarkan peluang investasi yang baik untuk investor world.

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply